Rupiah Tertekan ke Rp17.800 per USD: Respons Perry Warjiyo dan Strategi Stabilisasi BI di Tengah Gejolak Global
Rupiah Tertekan ke Rp17.800 per USD: Respons Perry Warjiyo dan Strategi Stabilisasi BI di Tengah Gejolak Global
Jakarta, 24 Juni 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan pada 24 Juni 2026, mencapai level Rp17.800 per USD. Peristiwa ini menjadi topik pencarian paling tinggi di Indonesia hari ini dengan traffic organik mencapai 1.000+ di Google Trends, mencerminkan kekhawatiran nyata masyarakat terhadap stabilitas nilai tukar dan dampaknya pada daya beli sehari-hari.
Kekhawatiran publik ini bukan tanpa alasan. Melemahnya rupiah secara langsung menyebabkan kenaikan harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumsi akhir. Hal ini berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat yang sudah terbatas.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo merespons situasi ini dengan menyatakan bahwa Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Kami all-out untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global yang tinggi," tegas Perry dalam konferensi pers.
Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur bulan Juni. Kenaikan ini menandai kenaikan ketiga dalam waktu sekitar satu bulan sebagai langkah mempertahankan stabilitas Rupiah di tengah gejolak global. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketegangan geopolitik global yang masih berlangsung.
Selain menaikkan suku bunga, Bank Indonesia juga membuka kembali lelang repo yang mencakup tenor tiga hingga dua belas bulan. BI juga melanjutkan insentif swap lindung nilai investor asing. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia dan mendorong aliran modal asing masuk untuk menopang rupiah.
Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, dolar AS terus menguat di pasar global seiring dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi. Sementara dari sisi internal, aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia turut memberikan tekanan pada rupiah.
Perry Warjiyo menjelaskan bahwa Bank Indonesia akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. "Kami akan terus berada di pasar untuk memastikan bahwa pergerakan rupiah tetap terkendali dan sesuai dengan fundamental ekonomi," ujarnya.
Meskipun rupiah tertekan, Bank Indonesia mencatat arus masuk modal asing bersih sebesar US$3,9 miliar pada kuartal II-2026 hingga 15 Juni. Ini merupakan pembalikan tajam dari kuartal I-2026 yang mencatat arus keluar modal asing bersih sebesar US$0,8 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah ini berarti harga barang impor akan naik. Hal ini terutama akan dirasakan pada produk-produk elektronik, kendaraan bermotor, dan bahan baku industri. Namun, ada juga sisi positifnya, yaitu produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global. (BERNAS.id, 2026)
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga terus memantau dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian nasional. Langkah-langkah antisipatif seperti penguatan cadangan devisa dan diversifikasi sumber pembiayaan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada perkembangan geopolitik global, terutama negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung di Swiss. Jika negosiasi ini berhasil mencapai kesepakatan, tekanan pada rupiah bisa mereda. Namun, jika negosiasi gagal, rupiah berpotensi terus melemah.
Kesimpulan: Pelemahan rupiah ke Rp17.800 per USD menjadi perhatian utama publik Indonesia. Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk menaikkan suku bunga dan intervensi di pasar valuta asing. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi spekulatif yang justru dapat memperburuk situasi. Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi perekonomian nasional.
